Moment Maikel Walilo, dengan bangga memengang SK Yudisium bukti dari Perjuangannya selama dibangku studi.
Jayapura, 10 Juni 2026 – Senyum lega bercampur
haru tergambar jelas di wajah Maikel Walilo. Pria muda yang baru saja resmi
menyandang gelar Sarjana Ekonomi Pembangunan (S.E) ini tak henti-hentinya
mengucap syukur.
Baginya, berdiri di momen yudisium bukanlah sekadar
pencapaian akademik biasa, melainkan buah manis dari keyakinan dan perjuangan
panjang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Puji Tuhan, yang pertama saya merasa sangat bersyukur
karena tidak menyangka bisa sampai di tahapan ini. Tapi iman saya selalu
berbisik bahwa selalu ada harapan,” ungkap Maikel dengan mata berbinar,
merefleksikan perjalanannya sesaat setelah prosesi yudisium selesai.
Menembus Tembok Kultural dan Keterbatasan
Perjalanan Michael menuju gelar sarjana tidak dilalui di
jalan yang mendatar. Sebagai pemuda yang merantau dari daerah pedalaman, ia
harus berhadapan dengan gegar budaya (culture shock) saat pertama kali
menginjakkan kaki di lingkungan kampus yang heterogen.
“Tantangan awal saat masuk adalah menghadapi orang-orang
yang berbeda. Saya dari pedalaman, datang ke sini dan bertemu dengan
teman-teman yang memiliki dialek, bahasa, dan etika yang jauh berbeda dari
saya,” kisahnya.
Namun, alih-alih menyusut dan menutup diri, Maikel memilih
jalan yang berani. Ia menyadari bahwa modal utamanya untuk bertahan hidup dan
berkembang di kota bukanlah uang, melainkan kepercayaan diri. “Saya
memberanikan diri. Keberanian dan kepercayaan diri itulah yang saya gunakan
untuk menghadapi teman-teman maupun dosen.
Kesenjangan antara saya yang dari pedalaman dan mereka yang
lahir di kota, saya patahkan dengan keberanian.”
Pantang Mengeluh Saat Dompet Menipis
Ujian berikutnya yang kerap menjadi momok bagi mahasiswa
perantau adalah masalah finansial. Menariknya, Maikel memiliki sudut pandang
yang luar biasa matang dalam menyikapi persoalan ekonomi. Kata “mengeluh”
tampaknya tidak ada dalam kamus perjuangannya.
“Kalau soal keuangan, saya tidak pernah mengeluh. Saya
selalu berpikir, selagi kita masih bernapas dan Tuhan memberi kehidupan, saya
bisa berusaha,” ujarnya mantap.
Ia menceritakan momen-momen kritis ketika tenggat waktu
pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), tinggal menghitung minggu.
Bukannya larut dalam kepanikan memikirkan dari mana
datangnya uang, Maikel justru mengubah pola pikirnya untuk mencari peluang.
“Dalam waktu dekat itu, saya tidak memikirkan ‘uang’, tapi saya memikirkan
‘pekerjaan’.
Dan benar saja, Tuhan selalu mengirimkan pekerjaan sehingga
saya bisa membiayai UKT saya sendiri.”
Pengusaha Muda yang Tak Pilih-pilih Pekerjaan
Kini, dengan ijazah sarjana di tangan, Maikel menatap masa
depan dengan pragmatis dan optimis. Ia bukan tipe lulusan yang akan kebingungan
mencari arah, sebab insting wirausahanya telah terasah jauh sebelum hari
kelulusan tiba.
“Rencana saya setelah ini adalah menjalankan bisnis. Ini
bukan usaha yang baru mau dirintis, tapi usaha yang memang sudah berjalan sejak
saya masih kuliah. Jadi, saya tidak akan merasa menjadi pengangguran,”
jelasnya.
Meski telah memiliki usaha dan mengantongi gelar Sarjana
Ekonomi Pembangunan, Maikel tetap rendah hati dan terbuka terhadap berbagai
peluang profesional.
Sembari mengembangkan bisnisnya, ia kini juga masih aktif
bekerja di area sekitar kampus. “Saya tidak pilih-pilih pekerjaan. Di mana pun
Tuhan memberikan jalan, saya siap bekerja. Pengalaman adalah modal utama,
sehingga di mana saja ditempatkan, saya pasti bisa bekerja.”
Pesan Emas untuk Generasi Penerus: “Jangan Menyerah”
Sebagai mahasiswa yang berhasil merampungkan studinya,
Maikel membuktikan bahwa manajemen waktu dan penentuan prioritas adalah kunci
mutlak. Ia merangkum perjalanannya dalam satu pesan kuat bagi adik-adik
tingkatnya yang masih berjuang di bangku kuliah.
“Modal utama kuliah itu bukan uang, tapi adik-adik harus
aktif, percaya diri, dan jangan pernah merasa bahwa keterbatasan itu adalah
kesialan,” pesannya tegas.
Bagi Maikel, bekerja sambilan di masa kuliah adalah hal yang
wajar, namun mahasiswa tidak boleh kehilangan arah. “Pendidikan harus selalu
menjadi prioritas utama. Kalau kita bisa memprioritaskan dan memanajemen waktu
dengan baik, pasti kita akan selesai tepat waktu. Tetap semangat, fokus pada
tujuan, dan jangan menyerah.”
Kisah Maikel Walilo menjadi cerminan nyata bahwa gelar
akademik bukan sekadar deretan huruf di belakang nama, melainkan akumulasi dari
ketangguhan mental, adaptasi, dan keyakinan yang tak pernah padam di tengah
keterbatasan. (Alyn Beay)